<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6880237080728790307</id><updated>2012-02-17T01:35:12.943+07:00</updated><title type='text'>Tungku Biomas dan Gasifikasi</title><subtitle type='html'>Berisi kumpulan artikel dari berbagai sumber yang berkaitan dengan tungku biomas dan gasifikasi biomas</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pak Tas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13264139827483780497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SQK-GfuO1FI/AAAAAAAAAAM/8VBc6NJf3ms/S220/bapak.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6880237080728790307.post-4599472532638744624</id><published>2008-11-08T09:31:00.010+07:00</published><updated>2008-11-08T10:44:16.568+07:00</updated><title type='text'>Teknologi Gasifikasi Biomas</title><content type='html'>oleh: Ir. Tasliman,M.Eng &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teknologi gasifikasi sebagai salah satu teknologi  konversi energi biomas saat ini masih sangat terbatas perkembangannya di  Indonesia. Penelitian mengenai gasifikasi biomas juga masih sangat sedikit  dilakukan. Padahal teknologi tersebut menghasilkan bahan bakar gas yang sangat  fleksibel penggunaannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika konsumsi domestik bahan bakar minyak terus  meningkat sehingga membawa Indonesia menjadi &lt;i&gt;net oil importer&lt;/i&gt;, substitusi  ke energi non fosil dengan memanfaatkan sumber energi alternatif secara lebih  efisien dan menggunakan teknologi yang lebih modern merupakan salah satu langkah  yang niscaya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salah satu sumber energi alternatif yang besar  peluangnya untuk dikembangkan pemanfaatannya di Indonesia ialah energi biomas.  Indonesia memiliki sumber biomas yang melimpah, sehingga potensi untuk  menjadikannya sebagai sumber energi (bahan bakar) sangatlah besar. Sebagai  sumber energi, biomas memiliki beberapa keuntungan terutama dari sifat  terbarukannya, dalam arti bahan tersebut dapat diproduksi ulang. Selain itu,  dari segi lingkungan, penggunaan biomas sebagai bahan bakar memiliki 2 segi  positif yaitu 1) bersifat mendaur ulang CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;, sehingga emisi CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;  ke atmosfir secara netto berjumlah nol, dan 2) sebagai sarana mengatasi masalah  limbah pertanian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari segi biaya, pada berbagai situasi lokal,  sangat dimungkinkan untuk secara ekonomi memperoleh keuntungan dari pemanfaatan  biomas sebagai sumber energi, antara lain jika memenuhi salah satu di antara  keadaan berikut.&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;  &lt;p&gt;Biomas tersedia secara melimpah sehingga   harganya jauh lebih murah dibanding minyak, atau  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  &lt;p&gt;Tempat tersebut terpencil sehingga   mendistribusikan listrik PLN melalui kabel menjadi terlalu mahal serta   kesulitan transport menjadikan harga minyak sangat tinggi, atau  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  &lt;p&gt;Biomas merupakan limbah dari industri setempat   sehingga pemanfaatan biomas merupakan cara untuk mengatasi masalah limbah. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Di Indonesia terdapat banyak wilayah pedesaan atau  perkebunan yang memenuhi satu atau lebih kriteria di atas. Data perkiraan hasil  studi kelayakan yang dilakukan Community Power Corporation (USA), menyebutkan  bahwa di Indonesia setidaknya terdapat 60.000 komunitas atau 12 – 15 juta KK  tanpa pasokan listrik yang berada di tengah wilayah pertanian / perkebunan /  hutan yang kaya sumber biomas (Anonim, 1999).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kenaikan harga bensin dan solar akhir-akhir ini  telah menjadikan pemanfaatan biomas menjadi lebih menarik secara ekonomi. Lebih  lagi, jika rencana pemerintah untuk mencabut subsidi minyak tanah jadi  terlaksana, maka insentif untuk pemanfaatan biomas di sektor rumah tangga akan  meningkat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat ini di Indonesia, penggunaan biomas sebagai  sumber energi terutama lebih banyak pada sektor tradisional, berupa penggunaan  sebagai kayu bakar untuk keperluan rumah tangga di pedesaan. Penggunaan biomas  secara lebih efisien serta lebih “bersih” memungkinkan penggunaan biomas sebagai  sumber energi pada sektor modern. Penggunaan biomas di sektor modern berarti  dikaitkan dengan fasilitas modern misalnya sebagai penggerak motor bakar serta  mampu dimanfaatkan berujud energi mekanik atau listrik dengan sumber yang  tersentralisasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemanfaat biomas sebagai sumber energi mekanik dan  listrik yang paling luas di Indonesia saat ini terbatas pada pabrik gula,  menggunakan teknik pembakaran langsung. Biomas yang berupa ampas tebu digunakan  sebagai bahan bakar pemanas boiler penghasil uap tekanan tinggi. Uap tersebut  digunakan untuk memutar turbin penggerak seluruh mesin di pabrik serta sumber  pemasok listrik untuk seluruh kebutuhan pabrik. Secara terbatas, limbah biomas  juga dimanfaatkan di beberapa pabrik minyak kelapa sawit dan pengolahan kayu.  Namun demikian, cara yang digunakan masih berupa pembakaran langsung.  Pemanfaatan biomas secara modern dengan cara diubah ke wujud gas baik dengan  cara &lt;i&gt;anaerobic digestion&lt;/i&gt; maupun melalui gasifikasi, masih sangat terbatas  penerapannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teknologi gasifikasi sebagai salah satu teknologi  konversi energi biomas saat ini masih sangat terbatas perkembangannya di  Indonesia. Penelitian mengenai gasifikasi biomas juga masih sangat sedikit  dilakukan. Padahal teknologi tersebut menghasilkan bahan bakar gas yang sangat  fleksibel penggunaannya, mulai dari untuk memasak dengan nyala yang bersih  sampai untuk menjalankan motor penggerak (motor busi, motor diesel, maupun  turbin)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu, teknologi gasifikasi memungkinkan  masyarakat pelosok yang tidak terjangkau distribusi listrik melalui kabel PLN  dapat memperoleh sumber energi, baik berupa energi panas, energi mekanik, maupun  energi listrik secara efisien dengan menggunakan bahan bakar lokal. Sebagaimana &lt;i&gt;anaerobic digestion&lt;/i&gt;, gasifikasi biomas juga dapat dilakukan dengan skala  kecil sehingga sangat prospektif untuk dikembangkan di pedesaan dan wilayah  terpencil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teknologi gasifikasi biomas merupakan teknologi  yang relatif sederhana dan mudah pengoperasiannya serta secara teknik maupun  ekonomi adalah layak untuk dikembangkan. Dengan demikian teknologi gasifikasi  biomas sangat potensial menjadi teknologi yang sepadan untuk diterapkan di  berbagai tempat di Indonesia. Namun masih diperlukan penelitian mendasar untuk  menjadikannya teknologi siap sebar. &lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Teori Gasifikasi Biomas &lt;/span&gt;&lt;p&gt;Proses gasifikasi biomas merupakan proses konversi  secara termo-kimia bahan biomas padat menjadi bahan gas. Proses gasifikasi pada  dasarnya merupakan proses pirolisa pada suhu sekitar 150 – 900 °C, diikuti oleh  proses oksidasi gas hasil pirolisa pada suhu 900 – 1400 °C, serta proses reduksi  pada suhu 600 – 900 °C (Abdullah, et al 1998). Baik proses pirolisa maupun  reduksi yang berlangsung dalam reaktor gasifikasi terjadi dengan menggunakan  panas yang diperoleh dari proses oksidasi. Gasifikasi berlangsung dalam keadaan  kekurangan oksigen. Dengan kata lain, gasifikasi biomas boleh dipahami sebagai  reaksi oksidasi parsial biomas menghasilkan campuran gas yang masih dapat  dioksidasi lebih lanjut (bersifat bahan bakar).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada proses gasifikasi terjadi banyak reaksi yang  terjadi secara bertingkat. Jika disederhanakan, secara netto reaksi gasifikasi  dengan oksidator udara atau oksigen dapat dituliskan dengan persamaan sebagai  berikut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SRT-GKgMyoI/AAAAAAAAAAo/hXiOi7eXi1k/s1600-h/New+Picture+%2857%29.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 358px; height: 25px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SRT-GKgMyoI/AAAAAAAAAAo/hXiOi7eXi1k/s400/New+Picture+%2857%29.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266113246155033218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6880237080728790307#sdfootnote1sym"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6880237080728790307#sdfootnote1sym"&gt;(Simpson, 2001)&lt;/a&gt;&lt;sup&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6880237080728790307#sdfootnote1sym"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hasil yang diperoleh dari gasifikasi biomas  merupakan campuran beberapa macam gas. Komponen utama bahan bakar dalam gas  biomas adalah H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; dan CO. Kandungan CO dalam gas biomas 15 – 30 %,  sedang H&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; antara 10 – 20 % (Turare, 1997). Komponen C&lt;sub&gt;n&lt;/sub&gt;H&lt;sub&gt;m&lt;/sub&gt;O&lt;sub&gt;k &lt;/sub&gt;pada persamaan di atas berupa fraksi uap campuran dari berbagai macam  senyawa organik yang disebut dengan nama umum &lt;b&gt;tar&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Gas hasil proses gasifikasi dinamakan &lt;i&gt;producer  gas&lt;/i&gt; atau &lt;b&gt;gas biomas&lt;/b&gt; untuk membedakan dengan istilah &lt;b&gt;biogas&lt;/b&gt;,  yaitu gas hasil fermentasi anaerob (&lt;i&gt;anaerobic digestion&lt;/i&gt;) biomas. Sedang  alat atau ruang yang digunakan untuk menggasifikasi biomas dinamakan &lt;i&gt;gasifier&lt;/i&gt;  atau reaktor gasifikasi atau generator gas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Gas biomas dapat dimanfaatkan untuk berbagai  keperluan. Sebagai bahan bakar, gas biomas mempunyai pemanfaatan yang cukup  luas, antara lain untuk memasak, menggerakkan turbin gas, menggerakkan motor  bakar dalam, sebagai bahan bakar pada ketel uap, serta untuk penerangan. Pada  jaman perang dunia kedua, diperkirakan sekitar satu juta kendaraan bermotor yang  menggunakan bahan bakar gas biomas (Anonim, 1986). Pada saat ini, pemanfaatan  utama gas biomas adalah untuk menjalankan motor stasioner pembangkit listrik.  Dengan sedikit modifikasi, motor bensin biasa dapat dijalankan dengan bahan  bakar gas biomas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika gasnya dibakar untuk menghasilkan panas,  sistem gasifikasi memiliki kelebihan dibanding pembakaran biomas secara  langsung. Karena berbentuk gas, pembakaran gas biomas jauh lebih mudah dikontrol  dibanding pembakaran biomas secara langsung, sehingga hal tersebut menguntungkan  dari segi konservasi energi serta penekanan polusi udara. Keuntungan gasifikasi  antara lain: lebih bersih, karena pembakaran lebih sempurna sehingga emisi  polutan lebih rendah. Selain itu lebih mudah pengaturan laju pembakarannya.  Namun ada beberapa kerugian yaitu, peralatan lebih rumit dan lebih mahal  dibanding pembakaran langsung serta memerlukan ketrampilan yang lebih tinggi.  Selain itu juga memerlukan persiapan bahan (perlu dipotong atau dicacah menjadi  serpih kecil).&lt;/p&gt; &lt;div id="sdfootnote1"&gt;  &lt;p class="sdfootnote"&gt;  &lt;a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6880237080728790307#sdfootnote1anc"&gt;1&lt;/a&gt;   Koefisien reaksi tidak disertakan&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;h3 class="western"&gt;Rancangan Gasifier&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Ada beberapa tipe reaktor gasifikasi, yang secara  garis besar terbagi menjadi &lt;i&gt;fixed-bed &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;fluidized bed&lt;/i&gt;. Reaktor  tipe &lt;i&gt;fluidized bed&lt;/i&gt; biasanya berukuran besar dan menghasilkan daya dalam  besaran MW. Sedang tipe &lt;i&gt;fixed-bed&lt;/i&gt; digunakan untuk memperoleh daya kecil  dengan kisaran kW sampai beberapa MW. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada kebanyakan tipe reaktor &lt;i&gt;fixed-bed&lt;/i&gt;  sebenarnya terjadi aliran secara lambat biomas dalam reaktor secara gravitasi.  Itulah sebabnya tipe ini juga disebut sebagai &lt;i&gt;moving-bed&lt;/i&gt;. Beberapa macam  reaktor gasifikasi yang paling banyak digunakan saat ini diberikan pada Tabel 1  berikut.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;Tabel 1. Tipe reaktor gasifikasi&lt;/p&gt;&lt;table id="table1" border="1" bordercolor="#c0c0c0" cellpadding="6" cellspacing="3"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td rowspan="2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" width="163" align="center"&gt;   Moving beds&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" align="center"&gt;   Fluid beds&lt;/td&gt;   &lt;td rowspan="2" align="center"&gt;   Entrained    beds&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Co-current&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Counter    current&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Dense&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Circulating&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;   Suhu °C&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   700-1200&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   700-900&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   &lt;&gt;   &lt;/td&gt;&lt;td align="center"&gt;   &lt;&gt;   &lt;/td&gt;&lt;td align="center"&gt;   ± 1500&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;   Tar&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Rendah&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Tinggi&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Sedang&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Sedang&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Tidak ada&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;   Kontrol&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Mudah&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Paling Mudah&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Sedang&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Sedang&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   Kompleks&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;   Skala&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   &lt;&gt;   &lt;/td&gt;&lt;td align="center"&gt;   &lt;&gt;   &lt;/td&gt;&lt;td align="center"&gt;   10 – 100 MW&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   &gt; 20 MW&lt;/td&gt;   &lt;td align="center"&gt;   &gt; 100 MW&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;    &lt;p&gt;&lt;/p&gt;(diolah dari Knoef, 2005&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pada tipe &lt;i&gt;moving-bed&lt;/i&gt;, biomas akan mengalir  ke bawah secara lambat dalam reaktor berbentuk tabung, seiring dengan laju  pembakaran yang terjadi pada bagian bawah tumpukan tersebut. Pada tipe tersebut  selama proses gasifikasi, front nyala api terjadi di bagian bawah reaktor,  sehingga nama lengkap untuk tipe ini adalah &lt;i&gt;moving-bed fixed-flame&lt;/i&gt;.  Reaktor &lt;i&gt;moving bed&lt;/i&gt; cocok untuk biomas yang mudah bergerak ke bawah oleh  gaya gravitasi misalnya serpih / cebis kayu (&lt;i&gt;wood chips&lt;/i&gt;), kayu potong  kecil, tongkol jagung, tempurung kelapa, dan sebagainya. Tipe reaktor &lt;i&gt;moving  bed&lt;/i&gt; yang saat ini beroperasi terdiri dari 2 macam yaitu &lt;i&gt;down-draft&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;co-current&lt;/i&gt;)  dan &lt;i&gt;up-draft &lt;/i&gt;(&lt;i&gt;counter-current&lt;/i&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena kandungan tarnya tinggi, reaktor tipe &lt;i&gt; up-draft&lt;/i&gt; cocok untuk memasok gas untuk tungku dan tidak cocok untuk memasok  bahan bakar untuk motor bakar dalam. Untuk memperoleh bahan bakar bagi motor  bakar dalam, reaktor yang cocok adalah tipe &lt;i&gt;down-draft&lt;/i&gt;, karena kandungan  tarnya rendah sehingga lebih mudah dan murah untuk membersihkannya. Pada Gambar  1 ditunjukkan skema reaktor gasifikasi &lt;i&gt;up-draft&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;down-draft&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu juga terdapat tipe reaktor yang biomas  di dalamnya tidak mengalir. Pada tipe ini selama proses, nyala api bergerak dari  bagian bawah reaktor menuju bagian atas. Oleh sebab itu tipe ini disebut sebagai  tipe &lt;i&gt;batch&lt;/i&gt;, karena tidak bisa dilakukan penambahan bahan bakar selama  proses, atau disebut juga &lt;i&gt;fixed-bed moving-flame&lt;/i&gt;. Pada dasarnya reaktor  jenis &lt;i&gt;moving flame&lt;/i&gt; dirancang untuk biomas yang sulit mengalir yaitu sekam  padi. Tipe ini jumlahnya tidak banyak, namun penelitian oleh Baozhao dan Yicheng  (1994) menunjukkan bahwa tipe ini bekerja dengan baik. Reaktor tipe &lt;i&gt; down-draft&lt;/i&gt; tersebut digunakan untuk menjalankan motor stasioner.&lt;/p&gt; &lt;center&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SRUBq0YGjfI/AAAAAAAAAAw/1WBAoXU3ofs/s1600-h/New+Picture+%286%29.gif"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 260px; height: 366px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SRUBq0YGjfI/AAAAAAAAAAw/1WBAoXU3ofs/s400/New+Picture+%286%29.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266117174405533170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;A. &lt;i&gt;Up-draft&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SRUCG63iMKI/AAAAAAAAAA4/FBNLe4YG3iA/s1600-h/New+Picture+%2858%29.png"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 191px; height: 327px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SRUCG63iMKI/AAAAAAAAAA4/FBNLe4YG3iA/s400/New+Picture+%2858%29.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266117657184317602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;B. &lt;i&gt;Down-draft&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/center&gt;&lt;p&gt;Gambar 1. Dua sub-tipe reaktor  gasifikasi &lt;i&gt;moving bed &lt;/i&gt;(Turare, 1997).&lt;/p&gt; &lt;h3 class="western"&gt;&lt;i&gt;Superficial Velocity&lt;/i&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Parameter reaktor gasifikasi tipe &lt;i&gt;down-draft&lt;/i&gt;  yang sangat penting yaitu &lt;i&gt;superficial velocity&lt;/i&gt; (SV) atau yang juga  dikenal dengan istilah &lt;i&gt;hearth load&lt;/i&gt;. SV adalah perbandingan antara  kapasitas produksi gas (m&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;/detik) dengan luas penampang “leher”  penyalaan dalam reaktor (m&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;), sehingga satuannya ialah m/detik. Dari  rancangan gasifier, SV merupakan parameter yang menentukan kandungan tar,  prosentase arang yang tersisa, serta nilai energi gas yang dihasilkan. Pada SV  rendah akan dihasilkan tar dan sisa arang yang tinggi. Gas yang dihasilkan pada  SV rendah akan memiliki kandungan energi yang tinggi namun sebagian besar berupa  tar, sehingga tidak menguntungkan untuk bahan bakar motor. Selain itu banyak  kandungan energi biomas yang masih tersisa dalam bentuk arang. Sedang pada SV  yang terlalu tinggi, proses akan mendekati keadaan pembakaran sempurna, sehingga  nyaris tidak tersisa lagi energi dalam gas yang dihasilkan. Menurut Reed (1999),  nilai SV optimal untuk reaktor &lt;i&gt;down draft&lt;/i&gt; yang memproduksi gas untuk  bahan bakar motor yaitu sekitar 0,26 m/detik.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gas Biomas Sebagai Bahan Bakar Motor &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;Selain langsung dibakar pada tungku untuk  memperoleh panas, cara pemanfaatan gas biomas ialah dengan menjadikannya bahan  bakar motor bakar dalam (&lt;i&gt;internal combustion engine&lt;/i&gt;). Motor yang  digunakan dapat berjenis motor busi maupun diesel. Dengan sedikit modifikasi  pada karburator, motor busi dapat dijalankan dengan bahan bakar gas biomas saja.  Sedang motor diesel tidak dapat dijalankan hanya dengan gas biomas melainkan  harus menggunakan sistem &lt;i&gt;dual-fuel&lt;/i&gt;, yaitu gas biomas digunakan secara  bersama dengan solar. Pada motor diesel tetap diperlukan bahan bakar solar  karena injeksi solar digunakan untuk keperluan penyalaan.&lt;/p&gt; &lt;h3 class="western"&gt;Pendinginan dan Pembersihan Gas&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Agar dapat digunakan untuk menjalankan motor, gas  dari reaktor harus dibersihkan terlebih dahulu dari debu partikel padat dan tar,  karena keberadaan kedua benda tersebut dapat mengganggu kinerja motor atau  bahkan dapat merusak komponen motor. Selain itu gas tersebut juga harus  didinginkan agar volume spesifiknya turun sehingga menaikkan efisiensi  volumetric pada saat langkah isap.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada beberapa teknik pembersihan dan pendinginan  gas biomas. Teknik pembersihan antara lain berupa:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;  &lt;p&gt;Pemisahan partikel padat dengan siklon  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  &lt;p&gt;Pencucian tar serta sisa partikel padat dengan   dilewatkan air tergenang  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  &lt;p&gt;Pencucian dengan cara disemprot air  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  &lt;p&gt;Penyaringan kering menggunakan bahan saring   sistem curah (adsorpsi)  &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;  &lt;p&gt;Penyaring dengan lembaran kain saring. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Pada satu sistem gasifikasi, bisa melibatkan satu  atau lebih teknik di atas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teknik pendinginan gas biomas sangat tergantung  pada sistem pembersihan yang digunakan. Jika pembersihannya menggunakan air,  maka hal tersebut sekaligus merupakan proses pendinginan. Untuk sistem kering,  pendinginan bisa menggunakan penukar panas dengan fluida penukar berupa air atau  udara. Jika digunakan udara untuk pendinginan, bisa digunakan aliran alami atau  aliran paksa memanfaatkan kipas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Percobaan oleh LaFontaine dan Zimmerman (1989)  menunjukkan bahwa gasifikasi dengan sistem pendinginan udara dan penyaringan  curah menggunakan &lt;i&gt;wood chips&lt;/i&gt; cukup memadai untuk menjalankan traktor  dengan daya 35 Hp, tanpa mengalami masalah yang berarti. Penggunaan cebis kayu  merupakan cara yang praktis sehingga banyak digunakan (Anonim, 1986). Bahan yang  lain untuk penyaring curah adalah arang, glass-wool (anonym, 1986), dan  sebagainya..&lt;/p&gt; &lt;h3 class="western"&gt;Macam-Macam Biomas untuk Gasifikasi&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Terdapat berbagai macam sumber biomas yang dapat  digunakan sebagai umpan pada proses gasifikasi. Pada dasarnya semua jenis biomas  padat kering dapat digasifikasi, meskipun untuk satu rancangan reaktor biasanya  hanya cocok untuk beberapa jenis biomas tertentu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa parameter gasifikasi yang sangat  dipengaruhi oleh biomas yang digunakan yaitu stabilitas nyala, mutu gas  (kandungan energi, tingkat kebersihan), efisiensi, dan penurunan tekanan yang  disebabkan hambatan aliran udara melalui tumpukan bahan. Beberapa parameter  utama kesesuaian biomas untuk gasifikasi adalah: kandungan energi, kadar air,  kandungan bahan volatile, ukuran bahan, distribusi ukuran bahan, reaktivitas  penyalaan, kadar abu, komposisi kimia abu, rapat curah, dan karakteristik  pengarangannya (Anonim, 1986).&lt;/p&gt; &lt;h3 style="font-weight: bold;" class="western"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Status Teknologi Gasifikasi Biomas Di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p&gt;Saat ini telah ada beberapa sistem gasifikasi  biomas yang sudah terpasang dan beroperasi di Indonesia. Namun informasi  mengenai teknologi gasifikasi biomas di Indonesia masih sangat sedikit. Data  tahun 1999 (Anonim, 1999) menyebutkan bahwa Community Power Corporation (USA),  bekerjasama dengan PT. Bakrie Sumatera Plantation (BSP) dan Bakrie Renewable  Energy System merencanakan untuk membangun sistem gasifikasi biomas untuk  elektrifikasi pemukiman terpencil pekerja perkebunan di PT BSP yang tersebar di  berbagai lokasi perkebunan tersebut. Teknologi yang akan digunakan adalah  teknologi gasifikasi biomas hasil penelitian di Amerika.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Belum diperoleh informasi lanjut mengenai status  proyek tersebut saat ini. Meskipun demikian dapat diperkirakan bahwa untuk dapat  menerapkan teknologi tersebut secara luas diperlukan proyek uji coba terlebih  dahulu untuk menguji kesesuaian teknologi tersebut dengan kondisi setempat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam Harian Suara Pembaruan tanggal 19 Januari  2004 disebutkan bahwa PT Indonesia Power (IP) memanfaatkan sekam padi untuk  bahan bakar pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan cara gasifikasi.  Sistem gasifikasi biomas yang berlokasi di pusat penggilingan padi di Desa  Cipancuh Kecamatan Haur Geulis, Indramayu tersebut dilaporkan memiliki daya 100  kW. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Heriansyah (2005) melaporkan adanya beberapa  sistem gasifikasi biomas yang beroperasi di Indonesia. Teknologi gasifikasi  biomas antara lain telah dikembangkan oleh PT. Ajiubaya di sebagian kecil  wilayah Kabupaten Sampit, Kalimantan Timur, dengan kapasitas 4 - 6 MW. Namun  tidak dijelaskan sistem gasifikasi biomas yang digunakan. PT. Boma Bisma Indra  telah mengoperasikan beberapa instalasi Bioner-1 dengan kapasitas sekitar 18 kW  di beberapa wilayah di Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi Utara. Sistem tersebut  berupa gasifikasi biomas untuk menjalankan motor diesel dan digunakan untuk  pembangkit listrik, pompa air atau mesin penggiling (Heriansyah 2005). &lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt; &lt;p&gt;Abdullah,  K, AK Irwanto, N Siregar, E Agustina, AH Tambunan, M Yamin, E Hartulistyoso, YA  Purwanto, D Wulandari, LO Nelwan; 1998; &lt;b&gt;Energi dan Listrik Pertanian&lt;/b&gt;;  JICA—DGHE / IPB Project / ADAET.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anonim;  1986; &lt;b&gt;Wood Gas as Engine Fuel&lt;/b&gt;; Food And Agriculture Organization Of The  United Nations; Rome.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anonim;  1999; &lt;b&gt;Small Modular Biopower Project&lt;/b&gt;; Phase 1 Project Report; Community  Power Corporation; Aurora, Colorado&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Baozhao,  Z., and X. Yicheng; 1994; &lt;b&gt;Study On Performance Of Biomass Gasifier-Engine  Systems And Their Environmental Aspects&lt;/b&gt;; dalam Nan et al (eds.);&lt;i&gt;  Integrated Energy Systems In China - The Cold Northeastern Region Experience&lt;/i&gt;;  Food And Agriculture Organization Of The United Nations; Rome.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Heriansyah, I; 2005; &lt;b&gt;Potensi Pengembangan Energi dari Biomassa Hutan di  Indonesia&lt;/b&gt;; INOVASI Vol.5/XVII/November 2005; &lt;u&gt;http://io.ppi-jepang.org/article.php?edition=5&lt;/u&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Knoef,  H.A.M; 2005; &lt;b&gt;Biomass Gasification&lt;/b&gt;; BTG Biomass Technology Group; &lt;u&gt; http://www.btgworld.com/2005/html/technologies/gasifica tion.html&lt;/u&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; LaFontaine, H., and E.P. Zimmerman; 1989; &lt;b&gt;Construction of a Simplified Wood  Gas Generator for Fueling Internal Combustion Engines in a Petroleum Emergency&lt;/b&gt;;  2&lt;sup&gt;nd&lt;/sup&gt; Edition; The Biomass Energy Foundation Press; Golden, Colorado.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Reed, T.  B., R. Walt, S. Ellis, A. Das, S. Deutch; 1999; &lt;b&gt;Superficial Velocity - The  Key To Downdraft Gasification&lt;/b&gt;; Presented at 4&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Biomass  Conference of the Americas; Oakland, California, 29 August 1999&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Simpson,  D.H.; 2001; &lt;b&gt;Biomass Gasification for Sustainable Development&lt;/b&gt;; &lt;u&gt;http://www.safariseeds.com/botanical/biodigestion/  Biodigestion.htm&lt;/u&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suara  Pembaruan tanggal 19 Januari 2004; &lt;b&gt;Setrum dari Sekam&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Turare,  C.; 1997; &lt;b&gt;Biomass Gasification Technology and Utilisation&lt;/b&gt;; &lt;u&gt;http://members.tripod.com/~cturare/bio.htm&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6880237080728790307-4599472532638744624?l=tungkubiomas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/feeds/4599472532638744624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2008/11/teknologi-gasifikasi-biomas.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/4599472532638744624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/4599472532638744624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2008/11/teknologi-gasifikasi-biomas.html' title='Teknologi Gasifikasi Biomas'/><author><name>Pak Tas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13264139827483780497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SQK-GfuO1FI/AAAAAAAAAAM/8VBc6NJf3ms/S220/bapak.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SRT-GKgMyoI/AAAAAAAAAAo/hXiOi7eXi1k/s72-c/New+Picture+%2857%29.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6880237080728790307.post-4535666537094575243</id><published>2007-04-10T18:43:00.001+07:00</published><updated>2007-04-10T18:43:46.685+07:00</updated><title type='text'>TUNGKU HEMAT ENERGI dari PONDIDAHA</title><content type='html'>Oleh: Munsir Salam&lt;br&gt;Infomobilizer Telecenter Lapulu Kondisi sulit terkadang &lt;br&gt;membuat orang melakukan hal-hal yang kreatif untuk tetap &lt;br&gt;survive dan untuk mengatasi persoalan. Kondisi sulit juga &lt;br&gt;menjadi peluang usaha bagi orang-orang yang jeli &lt;br&gt;melihatnya sebagai peluang. Ungkapan ini mungkin pantas &lt;br&gt;diberikan kepada warga Desa Pondidaha, Kabupaten Konawe, &lt;br&gt;Propinsi Sulawesi Tenggara.&lt;p&gt;Ide ini muncul saat saya dalam perjalanan dari Kendari ke &lt;br&gt;Konawe pada awal Agustus lalu. Di tengah perjalanan saya &lt;br&gt;mampir disebuah kawasan peristirahatan yang menyajikan &lt;br&gt;jagung rebus dan kopi hangat. Tempat ini sudah cukup &lt;br&gt;populer bagi para pengendara yang melintasi jalur Kendari &lt;br&gt;&amp;ndash; Konawe yang berjarak kurang lebih 60 kilometer. Tempat &lt;br&gt;ini mirip seperti beberapa tempat peristirahatan yang saya &lt;br&gt;lihat di jalur tol Cipularang pada saat saya melakukan &lt;br&gt;perjalanan dari Jakarta ke Bandung beberapa waktu yang &lt;br&gt;lalu.&lt;p&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Kopi dan jagung rebus&lt;br&gt;Sambil meluruskan punggung dan menyelonjorkan kaki, saya &lt;br&gt;asik menikmati kopi panas dan jagung rebus yang disuguhkan &lt;br&gt;oleh gadis-gadis Pondidaha yang terkenal &amp;quot;manis.&amp;quot; Tapi &lt;br&gt;yang menarik perhatian saya bukan gadis-gadisnya, tetapi &lt;br&gt;kompor yang mereka gunakan untuk merebus jagung dan &lt;br&gt;memasak air. Dari kurang lebih 40 buah warung lesehan yang &lt;br&gt;ada di kiri-kanan jalan, tidak satupun yang menggunakan &lt;br&gt;kompor minyak atau kompor moderen lainnya. Semua &lt;br&gt;menggunakan tungku masak yang terbuat dari tanah liat &lt;br&gt;dengan bahan bakar arang atau serbuk gergaji. Tungku atau &lt;br&gt;kompor ini dapat dengan mudah dilihat karena tempat makan &lt;br&gt;dan tempat masak menyatu dan terbuka. Bahkan beberapa &lt;br&gt;meletakkan tungku masak mereka dibagian depan warung &lt;br&gt;dengan panci diatasnya yang terus mengepulkan uap aroma &lt;br&gt;jagung rebus.&lt;p&gt;Rata-rata setiap warung memiliki 2 tungku. Satu untuk &lt;br&gt;memasak jagung dan satu lagi untuk menjerang air. Yang &lt;br&gt;menarik lagi adalah warna panci alumunium yang tetap &lt;br&gt;bersih, tidak hitam berarang seperti panci yang dipakai &lt;br&gt;memasak dengan menggunakan kayu bakar.&lt;p&gt;  &lt;br&gt;Tungku tanah liat&lt;p&gt;Tungku tanah liat berbentuk bulat melingkar seperti &lt;br&gt;silinder dengan tebal sisinya kurang lebih 5 cm. Tinggi &lt;br&gt;tungku bervariasi antara 40-45 cm dengan diameter &lt;br&gt;kira-kira 30 cm. Pada sisi bagian bawah dibuat semacam &lt;br&gt;&amp;quot;jendela&amp;quot; untuk mengeluarkan abu sisa pembakaran yang &lt;br&gt;sekaligus berfungsi sebagai &amp;quot;jendela oksigen&amp;quot;. Sedangkan &lt;br&gt;untuk memasukkan arang ke dalam tungku adalah melalui &lt;br&gt;lubang di bagian atas. Bagian tengah tungku berfungsi &lt;br&gt;sebagai &amp;quot;ruang bakar&amp;quot;. Pada saat memasak, lubang atas akan &lt;br&gt;tertutup oleh dasar panci. Prinsip kerjanya adalah &lt;br&gt;memfokuskan aliran panas yang dihasilkan dari pembakaran &lt;br&gt;arang ke wilayah tengah panci. Model silinder ini tentunya &lt;br&gt;efisien karena energi panas tidak akan terbuang percuma &lt;br&gt;oleh hembusan angin.&lt;p&gt;Saya ingin mencari tahu asal-muasal tungku tersebut dan &lt;br&gt;alasan mereka menggunakannya di zaman yang sudah serba &lt;br&gt;moderen ini. Saya sempat berpikir &amp;quot;Jangan-jangan ini &lt;br&gt;rahasia nikmatnya jagung rebus dan kopi yang disuguhkan&amp;quot;. &lt;br&gt;Agar ada alasan untuk berlama-lama dan bisa mengorek &lt;br&gt;informasi dari pemilik warung, saya menambah segelas kopi &lt;br&gt;lagi dan lima buah jagung rebus.&lt;p&gt;  &lt;br&gt;Tungku hemat energi&lt;br&gt;Pemilik warung tersebut, Ibu Tetty seorang wanita yang &lt;br&gt;berusia kira-kira 25 tahun bahwa dia sebelumnya &lt;br&gt;menggunakan kompor minyak dan masyarakat pada umumnya juga &lt;br&gt;menggunakan kompor minyak. Namun, saat terjadi kenaikan &lt;br&gt;harga minyak tanah pada tahun 2004, warga sangat kesulitan &lt;br&gt;karena langkanya dan tingginya harga minyak tanah saat &lt;br&gt;itu. Hal tersebut membuat usaha warung mereka tidak &lt;br&gt;menguntungkan lagi. Untuk mensiasatinya, mereka kembali &lt;br&gt;pada kebiasaan lama yaitu menggunakan tungku yang terbuat &lt;br&gt;dari tanah liat. Ibu Tetty bercerita bahwa dahulu orang &lt;br&gt;tua-orang tua mereka menggunakan tungku tanah dengan bahan &lt;br&gt;bakar kayu untuk memasak. Tungkunya dibuat sendiri dari &lt;br&gt;tanah yang ada di Desa Pondidaha yang memang seperti tanah &lt;br&gt;liat atau tanah lempung yang berwarna merah. Namun seiring &lt;br&gt;dengan hadirnya kompor minyak yang dirasakan lebih &lt;br&gt;praktis, kebiasaan menggunakan tungku tanah liat perlahan &lt;br&gt;ditinggalkan. Tetapi sekarang ini, semua orang di desa &lt;br&gt;Pondidaha telah kembali menggunakan tungku tanah.&lt;p&gt;Memasak dengan menggunakan kompor minyak, satu rumah &lt;br&gt;tangga akan menghabiskan minimal 1 liter minyak tanah &lt;br&gt;sehari yang harga per liternya saat ini di Kendari adalah &lt;br&gt;Rp.3000,- atau setara dengan Rp. 90.000,- per bulan. Untuk &lt;br&gt;kebutuhan seperti di warung Ibu Tetty harus menggunakan &lt;br&gt;kurang lebih dari 3 liter minyak tanah perhari atau setara &lt;br&gt;dengan dengan Rp. 9.000,- per hari atau Rp. 270.000 per &lt;br&gt;bulan. Sedangkan dengan kompor tanah liat, satu karung &lt;br&gt;arang seharga Rp. 20.000. (kira-kira 20 kg) dapat &lt;br&gt;digunakan untuk memasak nonstop selama dua minggu di &lt;br&gt;warung Ibu Tetty atau setara dengan Rp. 40.000,- per &lt;br&gt;bulan. Dengan menggunakan tungku tanah liat, Ibu Tetty &lt;br&gt;dapat menghemat Rp. 230.000 per bulan,-&lt;p&gt;  &lt;br&gt;Pembuatan Tungku&lt;br&gt;Usaha pembuatan tungku kini banyak di kembangkan di &lt;br&gt;Pondidaha. Saya menyaksikan ribuan tungku dipajang hampir &lt;br&gt;di setiap rumah. Pemasarannya ke seluruh wilayah Sulawesi &lt;br&gt;Tenggara, bahkan telah dipasarkan sampai ke Sulawesi &lt;br&gt;Selatan dengan mengguanakan kontainer. Para penyalur dari &lt;br&gt;kota Kendari atau dari daerah lain datang langsung ke &lt;br&gt;Pondidaha. Pembuatan tungku sudah menjadi sebuah bisnis &lt;br&gt;yang menjanjikan bagi masyarakat. Mereka juga memproduksi &lt;br&gt;arang dari jenis kayu tertentu dan dipasarkan sekaligus &lt;br&gt;dengan tungku. Harga satu buah tungku di Pondidaha &lt;br&gt;berkisar antara Rp.25.000&amp;ndash;30.000. Sedangkan arang dijual &lt;br&gt;dengan harga Rp. 20.000 per karung dengan berat kira-kira &lt;br&gt;20 kg. Di kota Kendari tungku-tungku tersebut dipasarkan &lt;br&gt;dengan harga Rp.35.000-Rp.40.000.&lt;p&gt;Menurut informasi dari Ibu Tetty, para pembuat tungku dan &lt;br&gt;pembuat arang di desa mereka saat ini dibina oleh LSM &lt;br&gt;Sintesa. Mereka dibina dari aspek permodalan, pemasaran, &lt;br&gt;kualitas produksi serta upaya penanaman kembali pohon kayu &lt;br&gt;untuk membuat arang. Karena jika pohon terus ditebang &lt;br&gt;untuk membuat arang, hutan akan menjadi gundul dan akan &lt;br&gt;menimbulkan masalah baru.&lt;p&gt;Saya masih penasaran dengan proses pembuatan tungku hemat &lt;br&gt;energi, hanya saja kopi dan jagung rebus saya sudah habis. &lt;br&gt;Untuk menambah kopi dan jangung rebus lagi, rasanya perut &lt;br&gt;saya sudah tidak muat. Tapi sebelum pamit pada Ibu Tetty &lt;br&gt;saya berjanji untuk berkunjung lagi. Ibu Tetty juga &lt;br&gt;bersedia mengantarkan saya di tempat pembuatan tungku &lt;br&gt;untuk melihat proses produksinya.&lt;p&gt;&lt;p&gt;Bagian kedua tulisan ini akan menyajikan proses produksi &lt;br&gt;tungku hemat energi from Pondidaha.&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.ict4pr.org/sections/main/sections/infocus/tungku-hemat-energi-dari"&gt;http://www.ict4pr.org/sections/main/sections/infocus/tungku-hemat-energi-dari&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6880237080728790307-4535666537094575243?l=tungkubiomas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/feeds/4535666537094575243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2007/04/tungku-hemat-energi-dari-pondidaha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/4535666537094575243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/4535666537094575243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2007/04/tungku-hemat-energi-dari-pondidaha.html' title='TUNGKU HEMAT ENERGI dari PONDIDAHA'/><author><name>Pak Tas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13264139827483780497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SQK-GfuO1FI/AAAAAAAAAAM/8VBc6NJf3ms/S220/bapak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6880237080728790307.post-2173896750600601746</id><published>2007-04-10T17:59:00.001+07:00</published><updated>2007-04-10T17:59:06.996+07:00</updated><title type='text'>Di Pinggiran Jakarta, Ibu Rumah Tangga Mulai Cari Kayu Bakar</title><content type='html'>Sabtu, 08 Oktober 2005, 17:03 WIB&lt;br&gt;Bekasi, Sabtu&lt;br&gt;Sejumlah ibu rumah tangga di pinggiran Jakarta mulai &lt;br&gt;mencari kayu bakar sebagai alternatif pengganti bahan &lt;br&gt;bakar untuk memasak, menyusul mahalnya harga minyak tanah &lt;br&gt;per liter mulai 1 Oktober 2005. Minyak tanah yang tadinya &lt;br&gt;satu liter cuma Rp700 kini menjadi Rp2000.&lt;p&gt;Beberapa ibu rumah tangga di daerah Pondok Benda, &lt;br&gt;Jatiasih, Kabupaten Bekasi, Sabtu (8/10), misalnya, tampak &lt;br&gt;sedang mencari kayu bakar di pekarangan kosong di sekitar &lt;br&gt;rumah mereka atau di komplek-komplek perumahan yang sedang &lt;br&gt;dibangun.Keberadaan lahan atau pekarangan kosong tersebut &lt;br&gt;cukup membantu ibu-ibu rumah tangga itu untuk mencari &lt;br&gt;bahan bakar kayu.&lt;p&gt;Dahan-dahan kayu mereka potong, kemudian dijemur. Ketika &lt;br&gt;berada di komplek lingkungan perumahan yang sedang &lt;br&gt;membangun, mereka mencari potongan-potongan kayu kaso yang &lt;br&gt;tak berguna untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar.&lt;p&gt;Sebagian besar ibu rumah tangga itu mengaku belum terpikir &lt;br&gt;untuk kembali menggunakan minyak tanah yang sudah mahal &lt;br&gt;itu. &amp;quot;Dengan kayu bakar lebih hemat, hanya tinggal &lt;br&gt;korbankan tenaga,&amp;quot; katanya.&lt;p&gt;Warung-warung pengecer melepas harga minyak Rp3000. &lt;br&gt;Sementara, di tingkat pedagang keliling minyak tanah sudah &lt;br&gt;seharga Rp2.700 atau Rp2.800. &amp;quot;Mereka jual minyak di &lt;br&gt;tingkat pangkalan seharga Rp2.500,&amp;quot; kata ibu-ibu rumah &lt;br&gt;tangga itu.&lt;p&gt;Sementara itu, masyarakat yang menggunakan elpiji juga tak &lt;br&gt;lepas dari masalah. Soalnya, dalam beberapa hari terakhir, &lt;br&gt;pasokan komoditas itu sedang kosong baik di warung maupun &lt;br&gt;di tingkat agen.&lt;p&gt;Kalau pun ada, kata seorang ibu, harganya Rp60 ribu per &lt;br&gt;tabung di tingkat agen atau lebih mahal dari kondisi biasa &lt;br&gt;Rp50.000-Rp51.000 per tabung ukuran 15 kg. Dengan &lt;br&gt;demikian, di tingkat pengecer seperti warung-warung &lt;br&gt;dipastikan mengalami kenaikan harga lagi.&lt;p&gt;Sumber:&lt;br&gt;Ant&lt;br&gt;Penulis:&lt;br&gt;Prim&lt;br&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/metro/news/0510/08/170435.htm"&gt;http://www.kompas.co.id/metro/news/0510/08/170435.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6880237080728790307-2173896750600601746?l=tungkubiomas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/feeds/2173896750600601746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2007/04/di-pinggiran-jakarta-ibu-rumah-tangga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/2173896750600601746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/2173896750600601746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2007/04/di-pinggiran-jakarta-ibu-rumah-tangga.html' title='Di Pinggiran Jakarta, Ibu Rumah Tangga Mulai Cari Kayu Bakar'/><author><name>Pak Tas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13264139827483780497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SQK-GfuO1FI/AAAAAAAAAAM/8VBc6NJf3ms/S220/bapak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6880237080728790307.post-1322888170567044969</id><published>2007-04-10T17:41:00.001+07:00</published><updated>2007-04-10T17:41:28.731+07:00</updated><title type='text'>Biomas, Kompor Berbahan Bakar Serbuk Tumbuhan </title><content type='html'>Laporan Wartawan Kompas Siwi Nurbiajanti&lt;p&gt;BREBES, KOMPAS - Serbuk tumbuhan, seperti sisa gergaji &lt;br&gt;kayu dan sekam, selama ini lebih sering hanya dijadikan &lt;br&gt;sebagai sampah. Namun saat ini, barang sisa tersebut dapat &lt;br&gt;digunakan sebagai salah satu bahan bakar alternatif, untuk &lt;br&gt;menggantikan minyak tanah dan gas yang semakin mahal.&lt;p&gt;Pemanfaatan serbuk tumbuhan, seperti sisa gergaji kayu dan &lt;br&gt;sekam sebagai bahan bakar kompor, ditemukan oleh Ahmad &lt;br&gt;Sucipto (33), warga Desa Sutamaja, Kecamatan Kersana, &lt;br&gt;Kabupaten Brebes. Kompor dengan bahan bakar serbuk gergaji &lt;br&gt;kayu dan sekam padi diberinya nama biomas. Biomas &lt;br&gt;diartikan sebagai memasak menggunakan tumbuh-tumbuhan.&lt;p&gt;Penggunaan kompor biomas mulai diperkenalkan oleh Ahmad &lt;br&gt;Sucipto sejak satu tahun lalu. Awalnya, ia memproduksi &lt;br&gt;sekitar 200 unit kompor untuk dipasarkan ke beberapa &lt;br&gt;wilayah di Kabupaten Brebes. Satu unit kompor dijual Rp &lt;br&gt;80.000. Bersama dua temannya, yaitu Arief Jauhari dan Agus &lt;br&gt;Purwanto, ia berupaya untuk terus menyempurnakan bentuk &lt;br&gt;dan kualitas kompor. Ia berharap, kompor biomas bisa &lt;br&gt;dipasarkan ke seluruh Indonesia.&lt;p&gt;Kompor biomas yang dibuat oleh Ahmad Sucipto memiliki &lt;br&gt;sistem kerja seperti kompor minyak tanah. Kompor tersebut &lt;br&gt;berbentuk tabung, dengan tinggi 43,5 sentimeter dan &lt;br&gt;diameter 29,5 sentimeter. Di dalam kompor terdapat tabung &lt;br&gt;berukuran lebih kecil, untuk tempat menyimpan serbuk &lt;br&gt;gergaji kayu atau sekam. Kompor tersebut dapat dinyalakan &lt;br&gt;dengan membakar serbuk gergaji kayu atau sekam melalui &lt;br&gt;lubang di samping tabung.&lt;p&gt;Ahmad menuturkan, ide pembuatan kompor biomas berawal dari &lt;br&gt;keprihatinan terhadap mahalnya harga minyak tanah dan gas. &lt;br&gt;Menurutnya, hal itu akibat tingginya ketergantungan &lt;br&gt;masyarakat terhadap dua jenis bahan bakar tersebut. &lt;br&gt;Padahal sebenarnya, banyak sumber alam lain yang bisa &lt;br&gt;digunakan sebagai bahan bakar, seperti serbuk gergaji kayu &lt;br&gt;dan sekam padi. Bahkan, masyarakat di pesedaan ada yang &lt;br&gt;telah menggunakan barang-barang tersebut untuk bahan &lt;br&gt;bakar. Namun penggunaannya masih sangat tradisional, &lt;br&gt;dengan menggunakan tungku sehingga menimbulkan asap tebal.&lt;p&gt;Oleh karena itu, ia ingin mengemas kedua jenis bahan bakar &lt;br&gt;tradisional itu menjadi bahan bakar yang praktis dan dapat &lt;br&gt;dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat. Terlebih &lt;br&gt;selama ini ia yang juga memiliki rice mill (penggilingan &lt;br&gt;padi), sering melihat sekam padi terbuang secara percuma. &lt;br&gt;Akhirnya Ahmad pun melakukan berbagai uji coba sehingga &lt;br&gt;ditemukan kompor biomas.&lt;p&gt;Kompor biomas memiliki nyala api merah, namun tidak &lt;br&gt;menimbulkan asap. Untuk satu tabung, diperlukan serbuk &lt;br&gt;gergaji kayu atau sekam padi sebanyak 1,25 kilogram. &lt;br&gt;Dengan bahan bakar sebanyak itu, bisa dihasilkan nyala api &lt;br&gt;selama dua jam. Besar kecilnya nyala api kompor biomas &lt;br&gt;bisa diatur, sesuai dengan kebutuhan.&lt;p&gt;Menurut Ahmad, penggunaan kompor biomas jauh lebih irit &lt;br&gt;bila dibandingkan dengan kompor minyak tanah. Jumlah &lt;br&gt;kalori panas yang dihasilkan pun lebih banyak.&lt;p&gt;Dari hasil perbandingan yang dilakukannya, untuk merebus &lt;br&gt;satu panci air hingga mendidih dengan menggunakan kompor &lt;br&gt;minyak tanah, diperlukan waktu selama 32 menit. Namun &lt;br&gt;dengan menggunakan kompor biomas hanya dibutuhkan waktu &lt;br&gt;sekitar 18 menit. Selain itu, dengan menggunakan kompor &lt;br&gt;biomas, bisa dilakukan penghematan hingga Rp 18.000 per &lt;br&gt;minggu, bila dibandingkan dengan menggunakan kompor minyak &lt;br&gt;tanah.&lt;p&gt;Saat ini, Ahmad berusaha untuk memperluas wilayah &lt;br&gt;pemasarannya. Untuk itu, ia akan membuat agen-agen di &lt;br&gt;beberapa daerah di Indonesia. Untuk mempermudah konsumen, &lt;br&gt;ia juga menyediakan serbuk gergaji kayu dan sekam yang &lt;br&gt;sudah dikemas. Satu bungkus serbuk gergaji kayu dan sekam &lt;br&gt;berukuran delapan kilogram, dijual Rp 40.000.&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.kompas.co.id/ver1/Iptek/0704/02/114707.htm"&gt;http://www.kompas.co.id/ver1/Iptek/0704/02/114707.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6880237080728790307-1322888170567044969?l=tungkubiomas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/feeds/1322888170567044969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2007/04/biomas-kompor-berbahan-bakar-serbuk.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/1322888170567044969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/1322888170567044969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2007/04/biomas-kompor-berbahan-bakar-serbuk.html' title='Biomas, Kompor Berbahan Bakar Serbuk Tumbuhan '/><author><name>Pak Tas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13264139827483780497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SQK-GfuO1FI/AAAAAAAAAAM/8VBc6NJf3ms/S220/bapak.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6880237080728790307.post-1284527998413189671</id><published>2007-04-10T16:28:00.000+07:00</published><updated>2007-04-10T17:09:36.860+07:00</updated><title type='text'>Tungku Sulistio Bebaskan Sampah</title><content type='html'>Pikiran Rakyat Bandung&lt;br&gt;Selasa, 16 Mei 2006&lt;p&gt;&amp;quot;Tungku Sulistio&amp;quot; Bebaskan Sampah&lt;p&gt;BANDUNG, (PR).-&lt;p&gt;Ketika kawasan lain di Kota Bandung dipusingkan dengan &lt;br&gt;persoalan sampah yang menggunung, warga Kel. Margasenang, &lt;br&gt;Kec. Margacinta, boleh bernapas lega. Paling tidak, mesin &lt;br&gt;pembakar sampah karya Ir. Sulistio mampu mengatasi &lt;br&gt;permasalahan sampah. Ditargetkan, dalam satu bulan, Kec. &lt;br&gt;Margacinta mampu mengatasi masalah sampah produksi rumah &lt;br&gt;tangga.&lt;p&gt;Warga Margasenang, khususnya RW 9, sudah mampu mengatasi &lt;br&gt;masalah sampah di lingkungannya. Selama dua bulan warga &lt;br&gt;sudah terbiasa mengolah sampah sendiri dengan menggunakan &lt;br&gt;mesin berupa tungku pembakar karya warga setempat, Ir. &lt;br&gt;Sulistio.&lt;p&gt;Camat Margacinta, Yayan Ahmad, saat menerima Tim Penilai &lt;br&gt;Lomba Kelurahan Tingkat Kota Bandung, Senin (16/5) &lt;br&gt;menyebutkan, penggunaan tungku pembakar sampah karya Ir. &lt;br&gt;Sulistio dapat menjadi salah satu solusi menangani &lt;br&gt;permasalahan sampah di Kota Bandung.&lt;p&gt;&amp;quot;Selain harganya yang relatif murah dan mudah &lt;br&gt;dipindah-pindah, cara penggunaannya pun sangat mudah dan &lt;br&gt;tidak banyak membutuhkan bahan bakar,&amp;quot; ujar Yayan.&lt;p&gt;Hingga saat ini, menurut Yayan, dari 71 RW di Kec. &lt;br&gt;Margacinta baru di Kel. Margasenang warga mengolah sampah &lt;br&gt;dengan menggunakan tungku bakar. &amp;quot;Secara swadaya akan &lt;br&gt;diupayakan secepatnya minimal tiap RW memiliki satu tungku &lt;br&gt;bakar,&amp;quot; ujar Yayan.&lt;p&gt;Hingga saat ini, tungku yang digunakan baru berupa tungku &lt;br&gt;bakar generasi 1 dan 2 yang untuk prosesnya dapat &lt;br&gt;menggunakan kayu bakar atau batu bara. Dalam waktu dekat, &lt;br&gt;tungku generasi ke-3 dengan proses yang dapat menggunakan &lt;br&gt;kompor blower dan asap yang dihasilkan sangat kecil, akan &lt;br&gt;segera digunakan.&lt;br&gt;Setiap tungku harganya relatif murah, tidak lebih dari Rp &lt;br&gt;600 ribu. Sementara untuk tungku generasi ke-3 harganya &lt;br&gt;bisa mencapai Rp 2 juta.&lt;p&gt;Sementara itu, Joko, Ketua RW 9 Kel. Margasenang &lt;br&gt;mengatakan, untuk proses pembakaran sampah yang dihasilkan &lt;br&gt;22 KK hanya diperlukan waktu dua hari. &amp;quot;Kami biasa &lt;br&gt;membakar setiap Rabu dan Minggu dengan satu kali proses &lt;br&gt;pembakaran sebanyak 50 kg sampah yang memakan waktu 2 jam. &lt;br&gt;Setiap hari dibakar 200 kg sampah,&amp;quot; ujarnya.&lt;p&gt;Untuk biaya proses pembakaran, pihaknya mengumpulkan uang &lt;br&gt;kebersihan yang biasa disetorkan saat membayar listrik. &lt;br&gt;&amp;quot;Jadi selama ini, kami sudah sepakat dengan PD Kebersihan &lt;br&gt;untuk tidak membayar iuran karena biayanya kami alihkan &lt;br&gt;untuk memproses sampah sendiri,&amp;quot; ujar Joko.&lt;p&gt;Sementara itu dr. Waskito M.P.M., salah seorang anggota &lt;br&gt;Tim Penilai Lomba Kelurahan Tingkat Kota Bandung, yang &lt;br&gt;juga staf di Dinas Kesehatan Kota Bandung mengatakan, &lt;br&gt;untuk proses pembakaran sampah menggunakan tungku bakar &lt;br&gt;karya Ir. Sulistio, dinilainya relatif aman. (A-87)***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6880237080728790307-1284527998413189671?l=tungkubiomas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/feeds/1284527998413189671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2007/04/tungku-sulistio-bebaskan-sampah_10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/1284527998413189671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/1284527998413189671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2007/04/tungku-sulistio-bebaskan-sampah_10.html' title='Tungku Sulistio Bebaskan Sampah'/><author><name>Pak Tas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13264139827483780497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SQK-GfuO1FI/AAAAAAAAAAM/8VBc6NJf3ms/S220/bapak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6880237080728790307.post-5620349248799341718</id><published>2007-04-08T12:32:00.000+07:00</published><updated>2007-04-12T16:16:14.720+07:00</updated><title type='text'>Dari Saya</title><content type='html'>Tempat ini saya pergunakan untuk mengumpulkan berbagai artikel yang berkaitan dengan tungku biomas dan gasifikasi biomas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6880237080728790307-5620349248799341718?l=tungkubiomas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/feeds/5620349248799341718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2007/04/dari-saya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/5620349248799341718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6880237080728790307/posts/default/5620349248799341718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tungkubiomas.blogspot.com/2007/04/dari-saya.html' title='Dari Saya'/><author><name>Pak Tas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13264139827483780497</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_qtlD7LVEpo4/SQK-GfuO1FI/AAAAAAAAAAM/8VBc6NJf3ms/S220/bapak.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
